cuplikan cerpen

Saat itu aku merasa dalam dirimu berubah, aku merasa kau tak lagi sama seperti pertama kali aku mengenal kamu, aku merasa kau seperti ingin lari dariku. Ingin rasanya menangis, tapi aku tau tangisanku tak kan membuatmu mengerti.

“kamu kenapa? Aku ngerasa kamu berubah” tanyaku mencoba pelan.

“maaf kalo aku berubah. Aku berubah juga karna sekarang aku mulai sibuk, banyak tugas, dan aku juga gak kaya dulu yang selalu megang hape kemana-mana, jadi pleaseee ngertiin” jawabnya yang begitu panjang dan menyakitkan membuat pikiranku begitu meluap. Aku tau dia, aku mengenal dia lebih dari yang dia tau, walaupun tak pernah sedikitpun aku menampakkan padanya.

“iya yaudah-yaudah, tapi kalo kamu bosen bilang aja, mungkin kalo kamu mau, kita bisa ngeakhirin, atau mungkin aku akan merubah sikap” jawabku lalu  diam, tak sanggup bila harus mendengar kata putus.

“aku cuman ngerasa gak nyaman aja sama kamu” lanjutnya,  kata demi kata lalu menjadi kalimat menyakitkan itu, kini  terasa memukulku begitu kencang, semuanya bersimpah peluh, menghadirkan airmata, dan itu sangat terasa pedih. Seandainya kamu mengatakan itu dari dulu, mungkin aku akan pergi meninggalkanmu  lebih awal dari ini.

Dan setelah itu aku masih mencoba pelan padamu, dan aku tau kamu pun masih membalasku dengan kasihmu yang masih hanya tersisa sedikit untukku. Aku mengerti.

“gak nyaman kenapa? Bilang aja kamu bosen? Apa mau putus aja?” tanyaku yang menyimpan batin, airmata mengalir dan menamaniku dalam kesedihan. walau sebenarnya aku gak ingin, tapi kita dan hati gak akan mungkin sanggup menyimpan perasaan dusta. Sekali lagi kau harus amati, bahwa aku mengerti!

“gatau aku bingung” dan disaat seperti itu kamu masih mengulas senyum seperti tak tau diri. akupun gak bisa mengelak, aku masih sanggup membalasmu pelan hingga airmata ini cukup sakit untuk terus dibendung.

Dan sampai waktu berjalan dengan cepat tanpa permisi kata itu berhasil menyisip, aku membenci kata itu, membencinya sangat amat. Setegar apapun hati takkan mungkin sanggup menahan airmata yang menyakitkan. Entah, tapi aku mengerti kata itu. ‘putus’ saat itu juga aku mengatakannya, tak ingin aku mengucapnya, tapi hati ini memaksaku untuk memberitahunya bahwa aku sudah tak sanggup, bahwa aku sudah mengerti cinta yang tak mungkin lagi dijalani.

Tepat disana, kamu menerima kata itu tanpa mempertahankan sebuah kalimat yang lebih berarti dari pada satu kata putus, akhirnya kitapun berakhir, dan aku ingin kamu tau bahwa aku mengatakannya bukan berarti aku tdk lagi menyayangimu , tapi itu hanya sebuah kejujuran bahwa aku sudah tak sanggup dengan sikapmu. Dan ini akhir kataku ‘Terimakasih’ aku tau aku memang tak seperti yang kamu inginkan tapi bukan berarti aku membencimu karna hal iu , tapi dari kamu aku mengerti. Aku akan merubahnya menjadi indah dengan orang lain walaupun bukan denganmu. Sekali lagi aku mengerti. Terimakasih untuk kamu yang sudah berlalu.

About sofialeaa

Maybe I'm not perfect like them, but here's I am, I just want to be myself. I don't know what they judge my self , but I know who knows exactly who I am, just myself and God, you don't even know the fact about me. i'm not good and I'm also not bad, i'm not a beautiful girl but i'm also not a bad girl, i'm just a little girl that be an ordinary girl View all posts by sofialeaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: